Senin, 16 Maret 2015

BAB I PENDAHULUAN 1.1 .Latar Belakang Berpikir kritis adalah cara manusia berpikir secara logis tentang suatu hal. Dengan berpikir secara kritis, manusia bisa menganalisis fakta, membuat gagasan atau pendapat, mempertahankan pendapat, menarik kesimpulan, mengevaluasi argument dan memecahkan masalah. Dalam keperawatan, berpikir kritis sangatlah diperlukan karena bagaimanapun juga semua tindakan keperawatan yang dilakukan membutuhkan tingkat pemikiran yang tinggi. Tidak ada tindakan yang dilakukan tanpa berpikir secara kritis. Berpikir bukan suatu proses yang statis dan menoton, tetapi selalu berubah secara konstan dan dinamis dalam setiap hari atau setiap waktu. Dalam praktik keperawatan, seorang perawat haruslah mempunyai keterampilan dan pengetahuan untuk menganalisis keluhan pasien, mencari informasi,memprediksi,dan dapat menggunakan alasan-alasan yang rasional karena mengingat profesi yang langsung berhadapan dengan nyawa manusia. Proses berpikir ini dilakukan sepanjang waktu sejalan dengan keterlibatan kita dalam pengalaman-pengalaman baru dan menerapkan pengetahuan yang kita miliki sehingga kita bisa jadi lebih mampu untuk membuat pendapat,ide-ide,ataupun kesimpulan-kesimpulan yang baik. Semua proses tersebut tidak terlepas dari sebuah proses berpikir dan belajar. 1.2.Tujuan a. Tujuan Instruksional Umum (TIU) Setelah menyelesaikan blok ini mampu mengaplikasikan konsep berpikir kritis dalam proses keperawatan. b. Tujuan Instruksional Khusus (TIK) 1. Mampu menjelaskan konsep berpikir kritis. 2. Mampu menjelaskan komponen berpikir kritis. 3. Mampu menjelaskan mengenai proses keperawatan. 4. Mampu menyelesaikan masalah klien dengan menggunakan proses keperawatan dengan pendekatan berpikir kritis. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Tinjauan Berdasarkan Teori 1. Definisi Berfikir Kritis Menurut iskandar (2009:86-87) kemampuan berfikir merupakan kegiatan penalaran yang reflektif,kritis dan kreatif yang beroreientasi pada suatu proses inteletual yang melibatkan pembentukan kosep(concept tualizing),aplikasi,analisis,menilai informasi yang terkumpul (sintesis) atau di hasilkan dari pengamatan ,pengalaman,refleksi,komunikasi sebagai landasan kepada suatu keyakinan (kepercayaan) dan tindakan. Berfikir adalah satu keaktifan pribadi manusia yang mengakibatkan penemuan yang terarah kepada suatu tujuan. Kita berfikir ntuk menemukan pemahaman yang kita kehendaki. 2. Konsep Berpikir Kritis Berfikir adalah aktivitas yang sifatnya mencari idea tau gagasan dengan menggunakan berbagai ringkasan yang masuk akal.Tri rusmi dalam perilaku manusia (1996),mengatakan berfikir adalah suatu proses sensasi,persepsi,dan memori atau ingatan,berfikir menggunakan lambing (fisual atau gambar) serta adanya suatu penarikan kesimpulan yang di sertai proses pemecahan masalah. Berfikir adalah menggunakan pikiran dan mencakup membuat pendapat,membuat keputusan,menarik kesimpulan,dan merefleksikan. Berfikir suatu proses yang aktif dan terorganisasi. Dalam kaitanya dengan keperawatan,berfikir kritis adalah reflektif,pemikiran yang masuk akal tentang masalah keperawatan tanpa ada solusi dan di fokuskan pada keputusan apa yang harus di yakinin dan di lakukan. Jadi yang merupakan suatu proses yang berjalan secara berkesinambungan mencakup interaksi dan suatu rangkaian pikiran dan presepsi. Berfikir kritis adalah suatu proses di mana seseorang atau individu di tuntut untuk menginterprestasikan dan mengevaluasi informasi untuk membuat sebuah penilaian atau kuputusan berdasarkan kemampuan,penerapan ilmu pengetahuan dan pengalaman. (pery & potter,2005) berfikir kritis adalah pengujian secara rasional terhadap ide-ide,kesimpulan,pendapat,prinsip,pemikiran,malah kepercayaan,dan tindakan. Menurut strader(1992),berfikir kritis adalah suatu proses pengujian yang menitik beratkan pendapat tentang kejadian suatu Afakta yang mutakhir dan menginterprestasikanya serta mengevaluasi pendapat-pendapat tersebut untuk mendapatkan suatu kesimpulan tentang adanya perpetif atau pandangan baru. Berfikir kritis adalah suatu proses berfikir sistematik yang penting bagi seorang prfesional. Berfikir kritis akan membantu profisional dalam memenuhi kebutuhan klien. Berfikir kritis adalah berfikir dengan tujuan dan mengarah sasaran yang membantu individu dan membantu penilaian berdasarkan data bukan fikiran. Berfikir kritis berdasarkan pada metode penyelidikan ilmiah,yang juga menjadi akar dalam proses keperawatan. Berfikir kritis dan proses keperawatan adalah krusial untuk keperawatan professional karena cara berfikir ini terdiri atas pendekatan kolistik untuk pemecahan masalah. Berfikir kritis adalah proses perkembangan kompleks yang berdasarkan pada fikiran rasional dan cermat. Menjadi pemikir kritis adalah sebuah denominator umum untuk pengetahuan yang menjadi contoh dalam pemikiran disiplin mandiri. Jadi yang di maksud dengan berfikir kritis merupakan suatu tehnik befikir yang melatih kemampuan dalam mengevaluasi atau melakukan penilaian secara cermat tentang tepat tidaknya atau layak tidaknya suatu gagasan yang mencakup penilaian dan analisis secara rasional tentang semua informasi masukan,pendapat,dan ide-ide yang ada,kemudian merumuskan kesimpulan dan mengambil suatu keputusan. 3. Komponen Berpikir Kritis Untuk lebih mengoptimalkan dalam proses berpikir kritis setidaknya paham dan tahu dari komponen berpikir kritis itu sendiri, meliputi ; a. Pengetahuan dasar spesifik Komponen pertama berpikir kritis adalah pengetahuan dasar perawat yang spesifik dalam keperawatan. Pengetahuan dasar ini meliputi teori dan informasi dari ilmu-ilmu pengetahuan, kemanusiaan, dan ilmu-ilmu keperawatan dasar. b. Pengalaman Komponen kedua dari berpikir kritis adalah pengalaman. Pengalaman perawat dalam peraktik klinik akan mempercepat proses berpikir kritis karena ia akan berhubungan dengan kliennya, melakukan wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dan membuat keputusan untuk melakukan perawatan terhadap masalah kesehatan. Pengalaman adalah hasil interaksi antara individu melalui alat indranya dan stimulus yang berasal dari beberapa sumber belajar. Menurut Rowntree pada proses belajar ada lima jenis stimulus/ rangsangan yang berasal dari sumber belajar yaitu : 1) Interaksi manusia (verbal dan nonverbal), adalah interaksi antara manusia baik verbal maupun nonverbal. 2) Realita (benda nyata, orang dan kejadian), adalah rangsangan yang meliputi benda-benda nyata, peristiwa nyata, binatang nyata, dan sebagainya. 3) Pictorial representation, adalah jenis rangsangan gambar yang mewakili suatu objek dan peristiwa nyata. 4) Written symbols, adalah lambang tertulis yang dapat disajikan dalam berbagai macam media. 5) Recorded sound, adalah rangsangan dengan suara rekaman yang membantu mengontrol realitas mengingat bahwa suara senantiasa berlangsung atau jalan terus. c. Kompetensi Kompetensi berpikir kritis merupakan proses kognitif yang digunakan untuk membantu penilaian keperawatan. Terdapat tiga tipe kompetensi, yaitu: Berpikir kritis umum, meliputi pengetahuan tentang metode ilmiah, penyelesaian masalah, dan pembuatan keputusan. 1) Berpikir kritis secara sepesifik dalam praktik klinik meliputi alasan mengangkat diagnose dan membuat keputusan untuk perencanaan tindakan selanjutnya. 2) Berpikir kritis yang sepesifik dalam keperawatan melalui pendekatan proses keperawatan (pengkajian sampai evaluasi). d. Sikap dalam berpikir kritis Sikap dalam berpikir kritis merupakan sikap yang diperoleh dari proses berpikir kritis dan sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan/ kesiapan untuk bereaksi terhadap stimulus atau objek menurut Newcomb dalam Notoatmodjo (1993), sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak. e. Standar / karakteristik berpikir kritis Dalam standar berpikir kritis terdapat dua komponen: 1) Standar intelektual Dalam standar intelektual untuk menghasilkan proses berpikir perlu di perhatikan tentang; rasional dan memiliki alasan yang tepat, reflektif, menyelidik, otonomi berpikir, kreatif, terbuka dan mengevaluasi. 2) Standar professional Pada standar professional keperawatan memiliki kode etik keperawatan dan standar praktek asuhan keperawatan. 4. Proses Keperawatan a. Pengkajian Pengkajian adalah upaya mengumpulkan data secara lengkap dan sistematis untuk dikaji dan dianalisis sehingga masalah kesehatan dan keperawatan yang di hadapi pasien baik fisik, mental, sosial maupun spiritual dapat ditentukan.tahap ini mencakup tiga kegiatan,yaitu Pengumpulan Data, Analisis Data dan Penentuan Masalah kesehatan serta keperawatan. 1) Pengumpulan data Tujuan : Diperoleh data dan informasi mengenai masalah kesehatan yang ada pada pasien sehingga dapat ditentukan tindakan yang harus diambil untuk mengatasi masalah tersebut yang menyangkut aspek fisik, mental, sosial dan spiritual serta faktor lingkungan yang mempengaruhinya. Data tersebut harus akurat dan mudah dianalisis. Jenis data antara lain: 1) Data Objektif, yaitu data yang diperoleh melalui suatu pengukuran, pemeriksaan, dan pengamatan, misalnya suhu tubuh, tekanan darah, serta warna kulit. 2) Data subjekif, yaitu data yang diperoleh dari keluhan yang dirasakan pasien, atau dari keluarga pasien/saksi lain misalnya; kepala pusing, nyeri dan mual. Adapun focus dalam pengumpulan data meliputi : 1) Status kesehatan sebelumnya dan sekarang 2) Pola koping sebelumnya dan sekarang 3) Fungsi status sebelumnya dan sekarang 4) Respon terhadap terapi medis dan tindakan keperawatan 5) Resiko untuk masalah potensial 6) Hal-hal yang menjadi dorongan atau kekuatan klien 2) Analisa data Analisa data adalah kemampuan dalam mengembangkan kemampuan berpikir rasional sesuai dengan latar belakang ilmu pengetahuan. 3) Perumusan masalah Setelah analisa data dilakukan, dapat dirumuskan beberapa masalah kesehatan. Masalah kesehatan tersebut ada yang dapat diintervensi dengan Asuhan Keperawatan (Masalah Keperawatan) tetapi ada juga yang tidak dan lebih memerlukan tindakan medis. Selanjutnya disusun Diagnosis Keperawatan sesuai dengan prioritas. Prioritas masalah ditentukan berdasarkan kriteria penting dan segera. Penting mencakup kegawatan dan apabila tidak diatasi akan menimbulkan komplikasi, sedangkan Segera mencakup waktu misalnya pada pasien stroke yang tidak sadar maka tindakan harus segera dilakukan untuk mencegah komplikasi yang lebih parah atau kematian. Prioritas masalah juga dapat ditentukan berdasarkan hierarki kebutuhan menurut Maslow, yaitu : Keadaan yang mengancam kehidupan, keadaan yang mengancam kesehatan, persepsi tentang kesehatan dan keperawatan. b. Diagnosa Keperawatan Diagnosa Keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia (status kesehatan atau resiko perubahan pola) dari individu atau kelompok dimana perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah (Carpenito,2000). Perumusan diagnosa keperawatan : 1) Actual : Menjelaskan masalah nyata saat ini sesuai dengan data klinik yang ditemukan. 2) Resiko : Menjelaskan masalah kesehatan nyata akan terjadi jika tidak dilakukan intervensi. 3) Kemungkinan : Menjelaskan bahwa perlu adanya data tambahan untuk memastikan masalah keperawatan kemungkinan. 4) Wellness : Keputusan klinik tentang keadaan individu, keluarga atau masyarakat dalam transisi dari tingkat sejahtera tertentu ketingkat sejahtera yang lebih tinggi. 5) Syndrom : diagnose yang terdiri dar kelompok diagnose keperawatan actual dan resiko tinggi yang diperkirakan muncul/timbul karena suatu kejadian atau situasi tertentu. c. Rencana keperawatan Semua tindakan yang dilakukan oleh perawat untuk membantu klien beralih dari status kesehatan saat ini kestatus kesehatan yang di uraikan dalam hasil yang di harapkan (Gordon,1994). Merupakan pedoman tertulis untuk perawatan klien. Rencana perawatan terorganisasi sehingga setiap perawat dapat dengan cepat mengidentifikasi tindakan perawatan yang diberikan. Rencana asuhan keperawatan yang di rumuskan dengan tepat memfasilitasi konyinuitas asuhan perawatan dari satu perawat ke perawat lainnya. Sebagai hasil, semua perawat mempunyai kesempatan untuk memberikan asuhan yang berkualitas tinggi dan konsisten. Rencana asuhan keperawatan tertulis mengatur pertukaran informasi oleh perawat dalam laporan pertukaran dinas. Rencana perawatan tertulis juga mencakup kebutuhan klien jangka panjang(potter,1997) d. Implementasi keperawatan Merupakan inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik. Tahap pelaksanaan dimulai dimulai setelah rencana tindakan disusun dan ditujukan pada nursing orders untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu rencana tindakan yang spesifik dilaksanakan untuk memodifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan klien. Adapun tahap-tahap dalam tindakan keperawatan adalah sebagai berikut : 1) Tahap 1 : persiapan Tahap awal tindakan keperawatan ini menuntut perawat untuk mengevaluasi yang diindentifikasi pada tahap perencanaan. 2) Tahap 2 : intervensi Focus tahap pelaksanaan tindakan perawatan adalah kegiatan dan pelaksanaan tindakan dari perencanaan untuk memenuhi kebutuhan fisik dan emosional. Pendekatan tindakan keperawatan meliputi tindakan : independen,dependen,dan interdependen. 3) Tahap 3 : dokumentasi Pelaksanaan tindakan keperawatan harus diikuti oleh pencatatan yang lengkap dan akurat terhadap suatu kejadian dalam proses keperawatan. e. Evaluasi Perencanaan evaluasi memuat criteria keberhasilan proses dan keberhasilan tindakan keperawatan. Keberhasilan proses dapat dilihat dengan jalan membandingkan antara proses dengan pedoman/rencana proses tersebut. Sedangkan keberhasilan tindakan dapat dilihat dengan membandingkan antara tingkat kemandirian pasien dalam kehidupan sehari-hari dan tingkat kemajuan kesehatan pasien dengan tujuan yang telah di rumuskan sebelumnya. Sasaran evaluasi adalah sebagai berikut: 1) Proses asuhan keperawatan, berdasarkan criteria/ rencana yang telah disusun. 2) Hasil tindakan keperawatan ,berdasarkan criteria keberhasilan yang telah di rumuskan dalam rencana evaluasi. Hasil Evaluasi Terdapat 3 kemungkinan hasil evaluasi yaitu : 1) Tujuan tercapai,apabila pasien telah menunjukan perbaikan/ kemajuan sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. 2) Tujuan tercapai sebagian,apabila tujuan itu tidak tercapai secara maksimal, sehingga perlu di cari penyebab dan cara mengatasinya. 3) Tujuan tidak tercapai, apabila pasien tidak menunjukan perubahan/kemajuan sama sekali bahkan timbul masalah baru.dalam hal ini perawat perlu untuk mengkaji secara lebih mendalam apakah terdapat data, analisis, diagnosa, tindakan, dan faktor-faktor lain yang tidak sesuai yang menjadi penyebab tidak tercapainya tujuan. 1.4 Proses Keperawatan dengan pendekatan berpikir kritis Perawat sebagai bagian dari pemberi pelayanan kesehatan, yaitu memberi asuhan keperawatan dengan menggunakan proses keperawatan akan selalu dituntut untuk berfikir kritis dalam berbagai situasi. Penerapan berfikir kritis dalam proses keperawatan dengan kasus nyata yang akan memberi gambaran kepada perawat tentang pemberian asuhan keperawatan yang komprehensif dan bermutu. Seorang yang berfikir dengan cara kreatif akan melihat setiap masalah dengan sudut yang selalu berbeda meskipun obyeknya sama, sehingga dapat dikatakan, dengan tersedianya pengetahuan baru, seorang profesional harus selalu melakukan sesuatu dan mencari apa yang paling efektif dan ilmiah dan memberikan hasil yang lebih baik untuk kesejahteraan diri maupun orang lain. Proses berfikir ini dilakukan sepanjang waktu sejalan dengan keterlibatan kita dalam pengalaman baru dan menerapkan pengetahuan yang kita miliki, kita menjadi lebih mampu untuk membetuk asumsi, ide-ide dan menbuat simpulan yang valid. Semua proses tersebut tidak terlepas dari sebuah proses berfikir dan belajar. Pada proses keperawatan perawat perlu mengidentifikasi dan menganalisis isu-isu berdasarkan perspektif dari beberapa sudut pandang yang berbeda untuk dapat memutuskan apa yang harus dilakukan. Berfikir kritis adalah suatu proses dimana seseorang atau individu dituntut untuk menginterpretasikan dan mengevaluasi informasi untuk membuat sebuah penilaian atau keputusan berdasarkan kemampuan, menerapkan ilmu pengetahuan dan pengalaman. (Pery & Potter,2005). Menurut Bandman dan Bandman (1988), berpikir kritis adalah pengujian secara rasional terhadap ide-ide, kesimpulan, pendapat, prinsip, pemikiran, masalah, kepercayaan dan tindakan. Menurut Strader (1992), bepikir kritis adalah suatu proses pengujian yang menitikberatkan pendapat tentang kejadian atau fakta yang mutakhir dan menginterprestasikannya serta mengevaluasi pandapat-pandapat tersebut untuk mendapatkan suatu kesimpulan tentang adanya perspektif pandangan baru. Untuk mendapatkan suatu hasil berpikir yang kritis, seseorang harus melakukan suatu kegiatan (proses) berpikir yang mempunyai tujuan (purposeful thinking), bukan “asal” berpikir yang tidak diketahui apa yang ingin dicapai dari kegiatan tersebut. Artinya, walau dalam kehidupan sehari-hari seseorang sering melakukan proses berpikir yang terjadi secara “otomatis” (missal ; dalam menjawab pertanyaan “siapa namamu?”). banyak pula situasi yang memaksa seseorang untuk melakukan kegiatan berpikir yang memang di “rencanakan” ditinjau dari sudut “apa” (what), “bagaimana” (how), dan “mengapa” (why). Hal ini dilakukan jika berhadapan dengan situasi (masalah) yang sulit atau baru. 2.2. TINJAUAN BERDASARKAN KASUS a. Tindakan Invasive Tindakan invasive adalah tindakan atau prosedur yang bisa menimbulkan cedera pada pasien baik bersifat minor atau mayor yang bertujuan untuk pemberian medikasi atau menyelesaikan masalah medis yang terjadi pada pasien. Contoh sederhana yaitu pemasangan infuse, kateter, NGT, dan lain-lain. b. Prosedur keperawatan 1. Pengkajian Pengkajian adalah upaya mengumpulkan data secara lengkap dan sistematis untuk dikaji dan dianalisis sehingga masalah kesehatan dan keperawatan yang di hadapi pasien baik fisik, mental, sosial maupun spiritual dapat ditentukan.tahap ini mencakup tiga kegiatan,yaitu pengumpulan data,analisis data,dan penentuan masalah kesehatan serta keperawatan. a. Pengumpulan data 1) Tujuan : Diperoleh data dan informasi mengenai masalah kesehatan yang ada pada pasien sehingga dapat ditentukan tindakan yang harus di ambil untuk mengatasi masalah tersebut yang menyangkut aspek fisik,mental,sosial dan spiritual serta faktor lingkungan yang mempengaruhinya. Data tersebut harus akurat dan mudah di analisis jenis data antara lain: a) Data objektif, yaitu data yang diperoleh melalui suatu pengukuran, pemeriksaan, dan pengamatan, misalnya suhu tubuh, tekanan darah, serta warna kulit. b) Data subjekyif, yaitu data yang diperoleh dari keluhan yang dirasakan pasien, atau dari keluarga pasien/saksi lain misalnya,kepala pusing,nyeri,dan mual. 2) Adapun focus dalam pengumpulan data meliputi a) Status kesehatan sebelumnya dan sekarang b) Pola koping sebelumnya dan sekarang c) Fungsi status sebelumnya dan sekarang d) Respon terhadap terapi medis dan tindakan keperawatan e) Resiko untuk masalah potensial f) Hal-hal yang menjadi dorongan atau kekuatan klien b. Analisa data Analisa data adalah kemampuan dalam mengembangkan kemampuan berpikir rasional sesuai dengan latar belakang ilmu pengetahuan. c. Perumusan masalah Setelah analisa data dilakukan, dapat dirumuskan beberapa masalah kesehatan. Masalah kesehatan tersebut ada yang dapat diintervensi dengan asuhan keperawatan (masalah keperawatan) tetapi ada juga yang tidak dan lebih memerlukan tindakan medis. Selanjutnya disusun diagnosis keperawatan sesuai dengan prioritas. Prioritas masalah ditentukan berdasarkan criteria penting dan segera. Penting mencakup kegawatan dan apabila tidak diatasi akan menimbulkan komplikasi, sedangkan segera mencakup waktu misalnya pada pasien stroke yang tidak sadar maka tindakan harus segera dilakukan untuk mencegah komplikasi yang lebih parah atau kematian. Prioritas masalah juga dapat ditentukan berdasarkan hierarki kebutuhan menurut Maslow, yaitu : Keadaan yang mengancam kehidupan, keadaan yang mengancam kesehatan, persepsi tentang kesehatan dan keperawatan. 2. Diagnosa keperawatan Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia (status kesehatan atau resiko perubahan pola) dari individu atau kelompok dimana perawat secara akontabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah (Carpenito,2000). Perumusan diagnosa keperawatan : a. Actual Menjelaskan masalah nyata saat ini sesuai dengan dataklinik yang ditemukan. b. Resiko Menjelaskan masalah kesehatan nyata akan terjadi jika tidak di lakukan intervensi. c. Kemungkinan Menjelaskan bahwa perlu adanya data tambahan untuk memastikan masalah keperawatan kemungkinan. d. Wellness Keputusan klinik tentang keadaan individu,keluarga,atau masyarakat dalam transisi dari tingkat sejahtera tertentu ketingkat sejahtera yang lebih tinggi. e. Syndrom Diagnose yang terdiri dar kelompok diagnosa keperawatan actual dan resiko tinggi yang diperkirakan muncul/timbul karena suatu kejadian atau situasi tertentu. 3. Rencana keperawatan Semua tindakan yang dilakukan oleh perawat untuk membantu klien beralih dari status kesehatan saat ini kestatus kesehatan yang di uraikan dalam hasil yang di harapkan (Gordon,1994). Merupakan pedoman tertulis untuk perawatan klien. Rencana perawatan terorganisasi sehingga setiap perawat dapat dengan cepat mengidentifikasi tindakan perawatan yang diberikan. Rencana asuhan keperawatan yang di rumuskan dengan tepat memfasilitasi konyinuitas asuhan perawatan dari satu perawat ke perawat lainnya. Sebagai hasil, semua perawat mempunyai kesempatan untuk memberikan asuhan yang berkualitas tinggi dan konsisten. Rencana asuhan keperawatan tertulis mengatur pertukaran informasi oleh perawat dalam laporan pertukaran dinas. Rencana perawatan tertulis juga mencakup kebutuhan klien jangka panjang(potter,1997) 4. Implementasi keperawatan Merupakan inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik. Tahap pelaksanaan dimulai dimulai setelah rencana tindakan disusun dan ditujukan pada nursing orders untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu rencana tindakan yang spesifik dilaksanakan untuk memodifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan klien. Adapun tahap-tahap dalam tindakan keperawatan adalah sebagai berikut : a. Persiapan Tahap awal tindakan keperawatan ini menuntut perawat untuk mengevaluasi yang diindentifikasi pada tahap perencanaan. b. Intervensi Focus tahap pelaksanaan tindakan perawatan adalah kegiatan dan pelaksanaan tindakan dari perencanaan`untuk memenuhi kebutuhan fisik dan emosional. Pendekatan tindakan keperawatan meliputi tindakan : independen,dependen,dan interdependen. c. Dokumentasi Pelaksanaan tindakan keperawatan harus diikuti oleh pencatatan yang lengkap dan akurat terhadap suatu kejadian dalam proses keperawatan. 5. Evaluasi Perencanaan evaluasi memuat criteria keberhasilan proses dan keberhasilan tindakan keperawatan. Keberhasilan proses dapat dilihat dengan jalan membandingkan antara proses dengan pedoman/rencana proses tersebut. Sedangkan keberhasilan tindakan dapat dilihat dengan membandingkan antara tingkat kemandirian pasien dalam kehidupan sehari-hari dan tingkat kemajuan kesehatan pasien dengan tujuan yang telah di rumuskan sebelumnya.Sasaran evaluasi adalah sebagai berikut a. Proses asuhan keperawatan, berdasarkan criteria/ rencana yang telah disusun. b. Hasil tindakan keperawatan ,berdasarkan criteria keberhasilan yang telah di rumuskan dalam rencana evaluasi. c. Hasil evaluasi Terdapat 3 kemungkinan hasil evaluasi yaitu : 1) Tujuan tercapai,apabila pasien telah menunjukan perbaikan/ kemajuan sesuai dengan criteria yang telah di tetapkan. 2) Tujuan tercapai sebagian,apabila tujuan itu tidak tercapai secara maksimal, sehingga perlu di cari penyebab dan cara mengatasinya. 3) Tujuan tidak tercapai,apabila pasien tidak menunjukan perubahan/kemajuan sama sekali bahkan timbul masalah baru.dalam hal ini perawat perlu untuk mengkaji secara lebih mendalam apakah terdapat data, analisis, diagnosa, tindakan, dan faktor-faktor lain yang tidak sesuai yang menjadi penyebab tidak tercapainya tujuan. Setelah seorang perawat melakukan seluru proses keperawatan dari pengkajian sampai dengan evaluasi kepada pasien,seluruh tindakannya harus di dokumentasikan dengan benar dalam dokumentasi keperawatan.   BAB III STUDI KASUS 3.1.SKENARIO : Critical in nursing proses Pukul 02:00 pagi pada suatu rumah sakit , perawat Yanti setelah melaksanakan invasiv pada suatu pasien melewati sebuah kamar yang tidak tertutup rapat dan melihat lampu kamar tersebut masih menyala , didalam kamar tersebut dirawat terlihat seorang pasien Ny. B sendiri. Ia berjalan menemui Ny. B dan berkata:”bu saya perhatikan lampu kamar ibu masih menyala. Bagaimana keadaan ibu?”, sudah tidur ?, Ny. B berkata:``Saya baik-baik saja`` kemudian membalikan badan kearah berlawnan dari Perawat, perawat Yanti juga memperhatikan bahwa ada sekumpulan tissue bekas di lantai dan seprei klien berantakan. Mata klien bengkak dan merah,karena takut mengganggu istirahat Ny.B, maka perawat Yanti pun tidak bertanya lagi dan segera meninggalkan kamar Ny.B. 3.2.Analisa Kasus 1. Klien takut menceritakan masalahnya kepada perawat dengan tindakannya membalikkan badan kearah berlawanan dari perawat setelah mengatakan saya baik – baik saja. 2. Perawat takut mengganggu waktu istirahat klien sehingga ia tidak sempat menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada klien.   BAB IV PEMBAHASAN KASUS   BAB V PENUTUP 5.1.Kesimpulan Berpikir kritis adalah cara manusia berpikir secara logis tentang suatu hal. Dengan berpikir secara kritis, manusia bisa menganalisis fakta, membuat gagasan atau pendapat, mempertahankan pendapat, menarik kesimpulan, mengevaluasi argument dan memecahkan masalah. Berpikir kritis adalah proses perkembangan kompleks, yang berdasarkan pada pikiran rasional dan cermat menjadi pemikir kritis adalah denominatur umum untuk pengetahuan yang menjadi contoh dalam pemikiran yang disiplin dan mandiri. 5.2.Saran Sebaiknya kita sebagai seorang individu atau seorang perawat bisa berpikir secara kritis, sehingga dapat mengambil keputusan dengan cepat dan tepat. Serta dapat menyelesaikan masalah dengan baik. Dan untuk memahami secara keseluruhan berpikir kritis dalam keperawatan kita harus mengembangkan pikiran secara rasional dan cermat, agar dalam berpikir kita dapat mengidentifikasi dan merumuskan masalah keperawatan. Serta menganalisis pengertian hubungan dari masing-masing indikasi, penyebab, tujuan, dan tingkat hubungan dalam keperawatan. Sehingga saat berpikir kritis dalam keperawatan pasien akan merasa lebih nyaman dan tidak merasa terganggu dengan tindakan perawat. DAFTAR PUSTAKA Kozier Barbara, ErbGlenora, Berman Audrey, Shirlee J.Synder.2010.Fundamental Keperawatan (Fundamental Of Nursing) JAKARTA; BUKU KEDOKTERAN(EGC) https://www.mail-archive.com/forum-pembaca-kompas@yahoogroups.com/msg50848.html http://kti-akbid.blogspot.com/2011/03/makalah-berpikir-kritis-dalam.html http://ryands-yobarion.blogspot.com/2011/11/berpikir-kritis-dalam-keperawatan.html

0 komentar:

Posting Komentar